Indonesia Mandiri Teknologi

Posted: 31 Mei 2011 in Nusantara

“Indonesia negeri gemah ripah loh jinawi”

Kalimat peribahasa ini sering dijadikan perumpamaan untuk negara kita Inonesia. Peribahasa tersebut memiliki makna kekayaan hasil bumi yang berlimpah. Tetapi, harapan peribahasa ini tentunya bukan sekedar negeri yang kenal akan kekayaannya tetapi juga mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsanya dengan segenap kekayaan tersebut.

Peta Indonesia

Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 18 ribu pulau merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Orang-orang sering menyebut Indonesia dengan sebutan nusantara. Selain jumlah pulau yang sangat banyak, Indonesia juga tercatat sebagai negara yang kaya sumber daya alam karena beragam mineral bisa ditemukan di sini seperti minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, batu bara, emas, dan perak. Negeri ini juga memiliki potensi yang sangat besar dari segi agraris dengan didukung tanah subur dan maritim dengan didukung luas perairan yang terbesar di dunia. Selain itu, sumber daya manusia di Indonesia juga sangat potensial dengan memiliki sekitar 300 juta penduduk (No. 4 di dunia) yang memiliki beragam suku dan kebudayaan. Dari segi geografis, Indonesia juga diapit oleh benua Asia-Australia dan samudra Hindia-Pasifik. Hal ini memberikan nilai strategis bagi Indonesia sebagai negara transit atau perantara dalam perdagangan. Segenap potensi yang besar tersebut merupakan anugerah yang telah diberikan tuhan kepada negeri kita yang tercinta ini.

Namun, sampai saat ini, cita-cita besar yang dimiliki oleh pendiri republik ini belum dapat terwujud seutuhnya. Amanah Pembukaan UUD 1945 terkait melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta menjaga ketertiban dunia masih merupakan suatu titik akhir yang jauh dari perjalanan yang telah dicapai hari ini. Padahal, seluruh potensi alam, manusia dan geografis yang dimiliki oleh nusantara ini setidaknya harus mampu mewujudkan kesejahteraan umum bagi segenap masyarakat Indonesia bahkan untuk bersaing dengan bangsa lain. Tetapi hari ini, angka kemiskinan berada di kisaran 14%. Belum, lagi kondisi riil yang menunjukkan terdapat lebih dari angka tersebut orang-orang yang masih belum dapat mencukupi kebutuhan pokok sehari-harinya. Keprihatinan ini dapat diangkat menjadi suatu permasalahan kemandirian yaitu masalah kemampuan mewujudkan cita-cita kesejahteraan dan kemakmuran yang sebenarnya dapat dicukupi melalui segenap potensi yang ada di negeri ini.

Teknologi merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk memproses atau mengendalikan suatu masalah secara efisien. Teknologi merupakan suatu instrumen penting dalam mewujudkan kemandirian bagi Indonesia. Input kekayaan dan potensi yang besar dan output cita-cita kemandirian Indonesia hanya dapat diwujudkan dengan teknologi yang unggul serta kemampuan manajemen yang hebatsebagai komponen pemrosesannya. Namun dalam hal teknologi, pemanfaatan untuk menunjang kemandirian di Indonesia belum optimal. Indonesia masih saja dikenal sebagai negara yang memiliki kekuatan ekspor bahan mentah. Padahal sentuhan kecil teknologi harusnya dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan-bahan mentah yang kita miliki menjadi suatu produk. Begitu juga dengan produk lain yang ada selama ini di Indonesia sering dicap tertinggal teknologi belasan atau bahkan puluhan tahun dari negara maju. Hal ini mendorong perlunya keseriusan kita sebagai suatu bangsa untuk bangkit menuju cita-cita kemandirian negara ini dengan mengusung gagasan kemandirian teknologi.

Habibie di dalam buku Jejak Pemikiran B.J. Habibie: Peradaban Teknologi Untuk Kemandirian Bangsa pernah menyampaikan bahwa Teknologi dan Industri adalah dua sisi mata uang. Hanya dengan penerapan teknologi dalam industri maka SDM Indonesia akan menjadi SDM yang kompetitif di dunia. Tanpa memiliki SDM yang kompetitif, maka bangsa kita secara pelan-pelan akan menjadi “Bangsa Konsumen“. Kita hanya mampu belanja tanpa mampu menghasilkan produk industri yang signifikan. Zuhal salah satu mantan menteri riset dan teknologi Indonesia juga pernah menyampaikan bahwa banyak negara di Asia yang yang kurang memiliki sumber daya alam serta jumlah penduduk seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura mampu mencapai pembangunan ekonomi secara berkesinambungan. Peran sains dan teknologi tentu tidak dapat disangsikan telah menjadi salah satu faktor dominan yang menjadikan negara-negara ini berhasil dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Beragam bidang yang menjadi potensi-potensi penggunaan teknologi dalam mewujudkan kemandirian nasional terdiri dari sektor pertanian, kelautan, kehutanan, dan sumber daya mineral.  Sektor-sektor tersebut merupakan bahan baku yang empuk untuk menjadi media penerapan pengembangan teknologi karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, teknologi juga memegang peran penting untuk membangun suatu industri yang mampu menghasilkan produk modern seperti alat elektronik, mobil, kapal, pesawat, teknologi pertahanan, dsb. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dibangun suatu sinergisasi visi dan agenda bersama antara stakeholder yang terkait dengan permasalahan teknologi ini. Stakeholder tersebut terdiri dari pemerintah, industri, badan penelitian dan perguruan tinggi. Pemerintah memiliki peran untuk menjamin kebijakan yang menguntungkan iklim inovasi di dalam negeri, memberi dukungan penuh berupa dana dan fasilitas pengembangan teknologi serta memprioritaskan penggunaan teknologi dalam negeri ketimbang teknologi dari luar negeri. Industri merupakan target dari pengembangan teknologi. Beragam jenis industri ataupun usaha mulai dari bidang pertanian, perhutanan, kelautan, energi dan produk jadi harus dapat menerapkan teknologi-teknologi yang dihasilkan. Sementara badan penelitian harus dapat menjadi suatu institusi yang terus memacu pengembangan teknologi yang tepat guna maupun yang berorientasi untuk dunia industri dan usaha.

Salah satu komponen penting dalam sistem stakeholder tersebut yaitu Perguruan tinggi dan mahasiswa. Terutama perguruan tinggi yang yang salah satu fokusnya adalah teknologi. Perguruan tinggi ini idealnya harus mampu menjadi fondasi pengembangan teknologi dengan tugas utama yaitu memberikan pendidikan kepada mahasiswa-mahasiswa yang nantinya akan memiliki peran sebagai motor pengembangan teknologi, serta melakukan peningkatan intensitas penelitian terkait teknologi tepat guna atau berorientasi industri dan usaha.

Peran mahasiswa dalam mewujudkan cita-cita kemandirian teknologi dapat dikelompokkan menjadi proses pendidikan dan penumbuhan semangat inovasi. Proses pendidikan bertujuan untuk memastikan seorang mahasiswa mendapatkan pemahaman yang dia butuhkan sesuai bidang keilmuan masing-masing agar nantinya mampu menjadi motor pembangunan berbasis teknologi. Dalam rangka menumbuhkan semangat inovasi, mahasiswa perlu meluangkan waktu untuk mampu melakukan eksplorasi-eksplorasi dalam hal teknologi. Ide-ide perlu dituangkan dalam bentuk yang lebih konkret dapat berupa suatu wacana, tulisan ataupun produk. Kompetisi-kompetisi untuk memicu semangat inovasi juga perlu difalisitasi diantara para mahasiswa baik yang diadakan oleh pemerintah, swasata ataupun mahasiswa sendiri. Melalui kegiatan kompetisi seperti COMPFEST dan berbagai kompetisi lainnya, budaya inovasi dapat dimunculkan melalui karya-karya yang dihasilkan oleh para peserta. Selain itu, suatu iklim kompetisi juga memiliki peran signifikan dalam memunculkan semangat untuk berkarya tersebut. Secara umum, mahasiswa memang tidak memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan karya, tetapi melalui proses pembelajaran yang didapatkannya seorang mahasiswa harus mampu menumbuhkan semangat untuk dapat menghasilkan inovasi salah satunya dengan banyak melakukan eksplorasi, belajar menghasilkan karya dan mengikuti berbagai kompetisi.

Bayangkan suatu saat nanti, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bahan bakar minyak karena telah memiliki teknologi pengelolaan minyak bumi dan gas alam serta beragam bahan bakar terbarukan untuk mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat. Dengan teknologi, justru negara ini akan mampu menjadi pengekspor energi. Dari sektor pertanian, negara agraris ini harusnya mampu mewujudkan swasembada pangan dan menjadi pengekspor yang besar produk-produk yang unggul dan unik dengan sentuhan teknolgi. Belum lagi hasil laut yang selama ini sering menjadi bahan curian negara tetangga. Jika teknologi Indonesia mampu meningkatkan kemampuan pengelolaan dan pengamanan kelautan Indonesia maka bahan pangan, kekayaan alam dan potensi energi tentu dapat menjadi kekuatan besar kita sebagai negara kepulauan terbesar. Dengan teknologi pula, kita akan mampu memiliki suatu industri yang menghasilkan produk modern seperi mobil, pesawat, teknologi perang. Seperti cita-cita yang telah dibangun dengan 10 perusahaan industri teknologi seperti PT. PAL Indonesia, PT. Pindad, PT. Krakatau Steel, PT. Dirgantara Indonesia, PT PAL, dsb. Semua hal tersebut mengerucut kepada kebutuhan terkait teknologi yang unggul dari dalam negeri dan mahasiswa memiliki peran yang vital dalam hal tersebut baik sebagai calon pemimpin masa depan dan juga sebagai motor dalam penelitian-penelitian berbasis teknologi.

Mewujudkan kemandirian teknologi Indonesia bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dengan mudah. Tetapi, usaha dan pengorbanan perlu dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia yang sejahtera dan makmur. Kerja sama, keseriusan serta sinergisasi antara stakeholder antara lain pemerintah, industri, badan penelitian dan perguruan tinggi merupakan kunci utama dalam mewujudkan Indonesia mandiri teknologi guna mencapai cita-cita UUD 1945 yaitu negara yang mampu mewujudkan kesejahteraan umum dalam rangka menjadi negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sumber:

  • Makka, A. Makmur. 2010. Jejak Pemikiran B.J. Habibie: Peradaban Teknologi Untuk Kemandirian Bangsa.
  • Zuhal. 2007. Kekuatan daya saing Indonesia: mempersiapkan masyarakat berbasis pengetahuan.

PROLOG

Esai ini menjelaskan suatu solusi yang dapat diberikan mahasiswa terhadap kondisi bangsa, mahasiswa, ITB dan kemahasiswaan ITB secara umum. Solusi yang akan dicapai merupakan suatu bentuk turunan dari konsep yang sudah tertuang pada RUK maupun arahan kegiatan inisiasi 2009.

Proses Analisis akan dilakukan secara urut dari masalah bangsa, masalah mahasiswa, masalah ITB dan masalah Kemahasiswaan ITB. Lalu, saya mencoba memberi rasionalisasi suatu sampel solusi yang berdasarkan RUK dan arahan inisiasi. Solusi yang diberikan akan berwujud suatu rangkaian acara.

Kondisi ideal disini adalah kondisi yang mampu dicampai ketika sistem bekerja dengan baik pada modal tertentu. Sedangkan kondisi objektif adalah pendapat objektif mengenai suatu hal.

BANGSA

Kondisi objektif dari bangsa Indonesia merupakan realita yang ada di masyarakat. Hal ini, umum disebut dengan realita bangsa. Realita bangsa menggambarkan kondisi bangsa terkait dengan kondisi ekonomi, politik, social maupun keamanan dan beberapa aspek lainnya. Satu hal yang ingin saya garis bawahi saat ini adalah kondisi mental maupun moral bangsa Indonesia. Fakta dari potensi alam Indonesia tidak termanfaatkan untuk kemakmuran bangsa masih banyak sumber daya kita yang diambil pihak asing, data korupsi yang sangat tinggi di Indonesia, menunjukkan kebobrokan moral maupun mental bangsa. Bangsa ini tampak belum siap secara mental untuk berubah menjadi lebih baik. Kondisi moral juga menambah keterpurukan kondisi bangsa.

Berdasarkan potensi kekayaan alam Indonesia, posisi strategis Indonesia, modal semangat kekeluargaan dan ramah dari bangsa Indonesia. Seharusnya kondisi Ideal bangsa Indonesia mampu banyak berbicara dalam hal perekonomian maupun perdagangan di Asia. Namun, butuh proses perbaikan pada sector paradigm pendidikan. Selain itu, modal suasana religious di bangsa ini seharusnya mampu memberikan dampak moral yang lebih baik terhadap setiap warga Negara. Setelah itu, keberagaman dan keunikan wilayah Indonesia harusnya mampu meningkatkan kemampuan pariwisata yang lebih baik.

MAHASISWA

Kondisi mahasiswa di Indonesia secara umum, tampak masih mendikotomi terhadap kegiatan akademik maupun kemahasiswaan. Padahal hal tersebut merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam proses pendidikan seorang mahasiswa. Dengan terjadinya dikotomi tersebut maka ada mahasiswa yang sangat study oriented ada pula yang kegiatan oriented. Kesalahan tersebut ditambah lagi dengan tidak adanya sistem penunjang akademis pada kurikulum pendidikan yang mampu menunjang kedua hal tersebut dengan efektif.

Kondisi Ideal dari bangsa Indonesia menuntut kesiapan mahasiswa itu sendiri maupun kesiapan kurikulum dalam menunjang proses pendidikan. Jika hal tersebut dapat terwujud maka mahasiswa akan dapat menjadi seorang individu yang utuh dalam menyikapi setiap permasalahan akademis, mampu menyikapi tanggung jawab sebagai mahasiswa untuk berkembang, belajar demi menjadi seorang alumni perguruan tinggi yang berintegritas sesuai dengan bidang keimuannya. Mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang mampu menempatkan diri dengan baik pada porsi akademis maupun kegiatan kemahasiswaan.

ITB

Kondisi ITB sebagai suatu institusi pendidikan ternyata belum mampu memfasilitasi tujuan pendidikan yang ada dalam kurikulumnya maupun metode pendidikannya. Hal ini dapat terlihat dengan masih adanya kesenjangan dari tanggapan pihak rektorat sebagai penyelenggara pendidikan akan permasalahan akademik dan kemahasiswaan. Di dalam prosesnya pun ternyata kondisi yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar orientasi yang berkembang di ITB adalah orientasi hasil bukan proses. Pendidikan ini tidaklah baik karena dapat menyebabkan mahasiswa untuk mencapai segala sesuatunya dalam mencapai hasil bukan menyebabkan mahasiswa untuk mencapai segala sesuatunya dalam mencapai proses yang baik.

Kondisi ideal dari ITB adalah menjadi institusi yang mampu menghasilkan mahasiswa dengan porsi ideal. ITB harus mampu menyediakan dan mendukung sarana pendidikan yang memberikan pengembangan akademis maupun soft skill mahasiswanya sesuai tujuan dari pendidikan itu sendiri. ITB juga harus bisa memfasilitasi budaya riset yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan potensi yang besar dari mahasiswa terbaik di Indonesia jika didukung dengan sistem pendidikan yang baik ITB seharusnya bisa menjadi universitas kualitas dunia.

KEMAHASISWAAN ITB

Kondisi kultur dari kemahasiswaan yang ada di ITB masih terdapat hal yang cenderung mempertahankan tradisi ketimbang membela kebenaran ilmiah dan tidak beradaptasi pada zaman. Padahal pada konsepsi sendiri nilai kemahasiswaan sebagai karakter pembela kebenaran ilmiah juga sudah tercantum. Selain itu, masih terdapat kesulitan koordinasi antar komponen yang ada di dalam sistem kemahasiswaan ITB itu sendiri karena masih adanya arogansi masing-masing lembaga yang menghalangi proses integrasi sebagai satu sistem kemahasiswaan ITB itu sendiri. Hal tersebut juga disebabkan komitmen bersama untuk bersatu. Hal ini menghalangi potensi besar bersama yang seharusnya dimiliki oleh sistem kemahasiswaan ini.

Kondisi ideal dari Kemahasiswaan ITB ketika sudah benar-benar bisa meruntuhkan tembok perbedaan berdasarkan asas saling menghargai maka Kemahasiswaan ini akan mampu mencapai tahap bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Hal ini tentunya akan dilalui melalui proses menjaga nilai-nilai kemahasiswaan seperti membela kebenaran ilmiah dan kemampuan beradaptasi terhadap zaman, menunjukkan semangat kebersamaan. Selain itu, kemahasiswaan ITB harus mampu mengembangkan potensi anggota yang berada pada sistemnya sehingga terdapat proses pembelajaran yang sesuai. Hal terakhir yang menurut saya paling penting adalah bagaimana membawa sistem kemahasiswaan meliputi pendidikan maupun tindakannya dapat bersinergi dengan pihak ITB secara keseluruhan sehingga posisinya lebih diakui dan sah sebagai salah satu metode pemenuhan nilai-nilai pendidikan dan keorganisasian bagi mahasiswa.

SOLUSI

Keempat komponen yang ada di atas adalah suatu lingkup yang sangat erat keterkaitannnya dengan nilai-nilai kemahasiswaan. Sebagai seorang mahasiswa ada tahap dimana kita belajar dan ada tahap kita mengamalkan ilmu yang kita miliki. Menurut saya, proses pembelajaran adalah proses yang terkait dalam tahapan mengetahui, mengenal, menyadari dan memahami. Keempat proses pembelajaran tersebut haruslah berkesinambungan sehingga terdapat pehaman yang baik karena dia menyadari, mengenali dan memahami.

KM ITB sebagai suatu sistem juga memiliki suatu tuntunan formal dalam mengarahkan suatu pembelajaran bagi anggotanya khususnya dalam hal pembelajaran awal berupa penjenjangan bagi mahasiswa tingkat 1 pada RUK dan juga arahan dari kegiatan inisiasi.

Pada tahap ini, arahan yang dikembangkan adalah bahwa untuk mencapai tujuan dari alumni yang ideal dimana dia mampu menjadi alumni yang sadar dengan sifat alumni perguruan tinggi, sadar kewajiban sebagai seorang sarjana program studi tertentu, sadar akan kewajiban memahami realitas bangsa, sadar akan kewajiban menempatkan kesarjanaan di tengah realitas bangsa, dan sadar akan peran pendidikan Indonesia.

Untuk mencapai proses  tersebut dibutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan yang disebut pembelajaran. Proses pembelajaran umum disebut dengan kata kaderisasi yang sebenarnya juga terkait dalam hal penurunan nilai. Suatu langkah penting dari tujuan pendidikan atau harapan dari karakter alumni adalah proses inisiasi atau gerbang awal dari pembelajaran akan nilai-nilai kemahasiswaan.

Sesuai arahan yang ada dan RUK yang ada maka saya mencoba membawa suatu acara berupa kaderisasi awal yang merupakan gerbang awal bagi proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan maupun tujuan karakter alumni. Gerbang awal ini adalah proses yang diawali dengan membuka pemikirannya untuk dapat menerima dan mengunyah terlebih dahulu materi yang ada, lalu dilakukan penanaman nilai dasar atau fundamental dari suatu nilai kemahasiswaan terhadap mahasiswa baru. Setelah itu, mahasiswa baru dikenalkan dengan lingkungan yang ada sehingga mengetahui potensi dan hal apa yang bisa dilakukan. Kejaran dari konsep ini adalah memberikan kesempatan mereka untuk menyadari apa mereka, berada dimana mereka dan apa yang bisa mereka lakukan dalam rangka proses pembelajaran. Proses pembelajaran awal ini tidaklah harus mencapai pemahaman materi tertentu. Namun, diarahkan pada tahap mengetahui dan mengenal nilai-nilai dan komponen kemahasiswaan itu sendiri.

Tahap yang saya usulkan terkait empat masalah kondisi yang disajikan diawal, maka diperlukan pengenalan akan wacana kondisi objektif yang ada dari bangsa Indonesia, mahasiswa, ITB, dan kemahasiswaan ITB. Setelah itu, mahasiswa baru perlu dirangsang untuk bermimpi akan kondisi ideal yang ada dari keempat hal tersebut. Dengan proses berkelanjutan yang ada, diharapkan pada kaderisasi lanjutan mereka sudah mampu menganalisis proses pencapaian tujuan ideal tersebut dengan memanfaatkan potensi yang ada berupa dasar pengenalan dari nilai-nilai dan komponen kemahasiswaan yang ada. Nilai-nilai dan komponen ini, diharapkan menjadi jembatan maupun fasilitas dalam rangka mereka mencapa tujuan ideal.

PSSI oh PSSI

Posted: 21 Mei 2011 in Nusantara, Random

Saya memang bukan pecinta sepak bola, tapi kisruh PSSI ini cukup menarik perhatian. Saya heran melihat orang-orang yang sedang bertempur di PSSI dengan dua sudut pandang masing-masing dengan risiko yang dikorbankan yaitu legalitas sepak bola Indonesia di mata dunia. Legalitas ini menyangkut talenta muda Indonesia yang harusnya dapat berkembang lebih pesat dan juga nasib masa depan persepakbolaan dalam rangka mengharumkan nama bangsa.

Ide pihak satu mengacu kepada keputusan FIFA yang tidak mengizinkan AP dan GT untuk maju dalam bursa ketua umum dengan surat yang dikirimkan kepada PSSI. Namun, pemahaman ini aneh, karena pada dasarnya tidak ada aturan di FIFA yang menyebabkan kedua orang ini tidak berhak maju. Namun, FIFA tetap mengeluarkan surat tersebut. Badan Arbitrase Olah Raga Dunia (CMIIW) sudah sempat mengeluarkan pandangan bahwa pencalonan dua orang tersebut tidak akan membuat Indonesia mendapatkan sangsi. Jadi sesuatu yang dibela pihak satu sebenarnya tidak terlalu kuat.

Ide pihak kedua membela hak kedua orang tersebut untuk menyalonkan diri. Tetapi, menurut saya terlalu naif jika hanya dua orang tersebut yang paling layak memimpin PSSI. Nama-nama yang sempat beredar saya rasa juga punya kompetensi yang besar untuk memimpin PSSI. Kalaupun alasan mengacu kepada keputusan FIFA atau landasan hukum FIFA, menurut saya terlalu beresiko kita bermain di ranah tersebut dengan mengorbankan potensi negatif yang dapat muncul sekalipun FIFA tidak adil.

Pandangan saya, sebaiknya kita mengikuti terlebih dahulu keputusan FIFA untuk tidak mengizinkan dua calon AP dan GT maju dalam bursa calon ketua umum PSSI agar terbentuknya Badan PSSI baru yang legal dan berdaulat karena mengorbankan resiko yang ada untuk pembelaan hak tersebut tidak terlalu esensial. Setelah PSSI terbentuk dengan visi, misi dan kepengurusan yang baru. Barulah kita pertanyakan kebijakan FIFA dengan aturan yang ada di FIFA. Dengan, suara yang lebih solid melalui badan yang jelas, saya rasa kita bisa mencegah kejadian tahun ini terulang kembali. Jika memang FIFA salah, mari kita gugat dengan badan bentukan yang jelas yaitu PSSI yang baru di bawah kepempinan baru.

Karena tokoh nasional kita bukan cuma AP dan GT.

Last, ya gw rasa it’s just football. But it’s football.

Sambil ngerjain tugas, terpikir untuk nulis tentang playoff NBA yang sedang bergulir dengan lumayan banyak tim baru dan lumayan banyak kejutan. Sayangnya, playoff sekarang tidak diikuti Steve Nash dari Phoenix Suns karena mereka cuma mampu finish di posisi ke-10 Western Conference. Dari playoff tahun ini, beberapa hal yang cukup menarik perhatian gw antara lain:

1. Phoenix Suns gagal playoff

Kalau ini mah, sepenuhnya ego, gara-gara tim favorit gw gak masuk playoff. Sebenernya bukan tim favorit juga, cuma tim yang kebetulan jadi tempat main pemain favorit yaitu Steve Nash. Tim ini gagal playoff setelah tahun lalu sempat masuk ke final conference dan kalah dari LA Lakers. Di conference standing, mereka juga finish di posisi kedua. Analisisnya, setelah ditinggal Amare, kemampuan tim langsung menurun, apalagi diawal sempat bertukar banyak pemain yang sayangnya gagal dapat performa terbaik. Jadinya, yah begitulah.

2. Tim Kuat Kehabisan Bakar

San Antonio Spurs, Los Angeles Lakers dan Orlando Magic bisa dibilang tim yang cukup dominan di masing-masing conference. Tapi, sayangnya di playoff putaran pertama ini, mereka belum bisa menang mudah terhadap tim yang mereka hadapi. Kasus paling parah terjadi di Spurs yang harus menyerah dari Grizzlies pada pertandingan pertama playoff. Salah satu dampaknya bisa jadi karena “the old gang”  sudah kehabisan energi. Padahal biasanya tim ini malah lebih on-fire pas playoff. Oke, khusus Lakers, mereka nampaknya harus terselip dengan kekalahan dikandang oleh Hornets. Semoga kabar cedera Kobe tidak berdampak signifikan terhadap performa Lakers ke depannya. Sementara Magic yang tahun ini juga cukup banyak mengalami perombakan bisa dibilang sedang mencari performa terbaik di playoff. Hasilnya mereka kesulitan meladeni Hawks yang digawangi Joe Smith, Joe Johnson dan Al Horford.

3. Yang Muda Yang Berjaya

Nah, untuk kasus ini kita bisa lihat Chicago Bulls dan Oklahoma City Thunder masing-masing dipimpin Derrick Rose dan Kevin Durant, yang bisa dibilang masih cukup muda di kancah NBA. Hasil kedua tim ini bisa dibilang cukup memuaskan, memastikan tiket semifinal conference dengan unggul 4-1 terhadap lawan mereka merupakan prestasi yang hebat. Terlebih lagi Bulls sebagai jawara conference yang nampaknya lebih stabil ketimbang Magic ataupun Hawks. Harusnya tiket final conference bisa jadi tinggal menunggu waktu. Sementara Thunder, harusnya bisa memanfaatkan waktu istirahat yang dimiliki untuk mempersiapkan amunisi sembari menunggu lawan antara Spurs atau Grizzlies. Jika mereka bisa memanfaatkan kesempatan tersebut harusnya final Conference juga menjadi jatah tim ini.

4. Fenomena Tim Rombak Total

Nah, untuk kasus ini, kita bisa ambil dua tim yaitu Miami Heat dan New York Knicks. Sebagian besar tim di timur mengalami perombakan pada roster mereka. Selain dua tim tersebut, kita bisa lihat di Bulls kedatangan Boozer, di Magic kedatangan Richardson. Untuk Miami Heat dengan super rosternya, tidak banyak yang bisa dikomentari. Sampai saat ini, mereka berjalan cukup mulus di playoff. Hal ini didukung satu tiket semifinal yang diamankan dengan mengalahkan 76ers 4-1. Pertemuan selanjutnya adalah ujian berat bagi tim yang juga tengah mencari performa terbaik ini, dengan menghadapi Celtics yang mengandalkan big-4 nya. Sementara itu, Knicks sudah ditelan the green Celtics dengan skor 4-0. Kombinasi Amare dan Carmelo ternyata belum cukup untuk bertarung di playoff. Namun, isu yang berhembus terkait rencana bergabungnya Chris Paul pada musim berikutnya bisa jadi akan sangat menguntungkan tim ini dan menjadi kekhawatiran tim lain khususnya di zona barat yang mulai kehilangan banyak bintang.

Terakhir, prediksi playoff 2011 versi gw bakal kita mulai dari Semifinal Conference yaitu:
Barat:
Spurs vs Thunder
Lakers vs Mavs
Timur:
Bulls vs Magic
Celtic vs Heat

Nah final conferencenya:
Barat: Thunder vs Lakers
Timur: Bulls vs Heat

Analisis final barat: Thunder bisa memanfaatkan waktu istirahat dan semangat muda untuk membekuk Spurs. Lakers dengan kematangan roster dan pengalaman di playoff harusnya bisa menaklukkan Mavs. Sementara, untuk partai final antara Thunder melawan Lakers akan sangat ditentukan gebrakan jiwa muda Thunder melawan kestabilan Lakers. Dengan asumsi kondisi Kobe Bryant  fit secara penuh, maka bisa diprediksi jawara wilaya barat adalah Lakers.

Analisis final timur: Bulls yang sudah istirahat lebih panjang dan lebih matang di regular harusnya bisa menaklukkan Magic yang bisa dibilang tidak stabil tahun ini. Heat yang akan berhadapan dengan Celtics merupakan pertandingan paling seru di semifinal conference. Namun, nampaknya trio mega bintang yang sedang pada puncak performanya harusnya dapat menggeser trio yang sudah mulai menua meskipun trio tua ini sudah di backup pemain seperti Rondo. Partai Final antara Bulls dengan Heat akan menjadi sangat seru. Namun, dengan asumsi big three dari Heat bekerja penuh, harusnya Derick Rose pun dapat dihentikan. Jawara Timur besar kemungkinan Heat.

Nah, untuk prediksi final ntar dulu deh, nunggu hasil prediksi lainnya dibuktikan dulu saja.

Tulisan ini tentang mahasiswa ITB tanpa bermaksud membandingkan dengan mahasiswa dari universitas lain kawan..

Mahasiswa adalah salah satu kelompok sosial di dalam tatanan masyarakat yang menjalankan peran sebagai insan akademis. Insan akademis memiliki dua peran. Pertama, peran untuk selalu kritis terhadap diri sendiri dan lingkungan dalam rangka mengembangkan diri untuk dapat menjawab tantangan zaman. Kedua, peran untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah. Kedua peran tersebut mengarahkan seorang mahasiswa untuk dapat menjadi insan-insan yang mampu bersikap kritis terhadap kondisi lingkungannya saat ini untuk dapat mempersiapkan diri menyusun tatanan masyarakat masa mendatang dengan berlandaskan terhadap kebenaran ilmiah.

Muh. Hatta didalam falsafah keberadaan organisasi kemahasiswaan menyatakan secara implisit bahwa tujuan perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh proses pendidikan yang didapatkan oleh seorang mahasiswa di dalam perguruan tinggi harus dapat mendukung terbentuknya watak seorang insan akademis. Keseluruhan proses pendidikan tersebut termasuk dalam fasilitas pendidikan kurikuler hingga lingkungan kampus. Salah satu komponen lingkungan kampus yang memiliki andil dalam membentuk watak seorang mahasiswa adalah kegiatan kemahasiswaan.

KM-ITB (Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) merupakan organisasi kemasiswaan terpusat yang melingkupi seluruh elemen kampus terdiri dari kongres, kabinet, MWA-WM (Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa), himpunan, unit dan Tim Beasiswa. Sistem organisasi ini memiliki tujuan:

  1. Ikut serta mengusahakan tujuan pendidikan untuk membentuk sarjana yang berbudi pekerti, cakap, mandiri, berwawasan luas, demokratis, dan bertanggung jawab.
  2. Memberikan dorongan kepada mahasiswa untuk menjadi pemimpin dan penggerak dalam kehidupan berbangsa.
  3. Ikut serta menyumbangkan karya dan pikiran dalam penataan kehidupan bangsa.
  4. Memupuk dan membina rasa persaudaraan dan kekeluargaan di lingkungan civitas akademika.
  5. Mengusahakan kesejahteraan material dan spiritual serta memperjuangkan kepentingan mahasiswa di lingkungan kampus.

Tujuan tersebut dapat disederhanakan menjadi pembentukkan karakter mahasiswa ITB sesuai tujuan pendidikan, sarana pemenuhan kebutuhan mahasiswa, serta wadah kontribusi untuk bangsa.

Ditilik dari segi historis, dua presiden RI yaitu Soekarno dan B. J. Habibie pernah mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa ITB. Begitu juga, sebagian menteri maupun pemimpin perusahaan terkemuka di Indonesia merupakan alumni ITB. Tidak sedikit pula, alumni ITB yang menjadi pionir-pionir dalam bidang masing-masing. Dengan fakta tersebut, kami mengambil suatu hipotesis bahwa proses pendidikan di ITB bukan sekedar mencetak sarjana-sarjana yang unggul di bidang masing-masing. Lebih dari itu, proses pendidikan di ITB membentuk watak pemimpin bangsa. Keseluruhan proses pendidikan tersebut tentu tidak lepas dari andil kegiatan kemahasiswaan sebagai bagian kehidupan kampus yang dialami oleh setiap mahasiswa.

Dari sana kita dapat melihat posisi strategis KM ITB dalam membentuk calon pemimpin-pemimpin bangsa.